dear, kamu; siapapun kamu
mungkin selalu ada suka bahkan tawa di setiap sedihku, kamu
diam-diam selalu menguntit, sudah mirip dengan agen BIN, kamu
diam-diam membicarakan, sepertinya tak beda dengan gerombol ibu-ibu saat bersama berhadapan dengan mamang tukang sayur, kamu
diam-diam lalu mengeja setiap kata yang aku tulis, tak jauh seperti plagiat yang nantinya mengutip semua, kamu
diam-diam melihatku seksamamu mengamati, seperti penggemar yang menyukai idolanya, lalu meniru, kamu
iya, kamu
yang kata angin membenciku, tapi angin-anginan memperhatikan bahkan mengekor segalaku
iya, kamu
bisa buka mata sedikit ?
iya, kamu
masih punya hati kah ?
kamu, teruntuk kamu yang bahagia melihat kesedihanku
mungkin selalu ada suka bahkan tawa di setiap sedihku, kamu
diam-diam selalu menguntit, sudah mirip dengan agen BIN, kamu
diam-diam membicarakan, sepertinya tak beda dengan gerombol ibu-ibu saat bersama berhadapan dengan mamang tukang sayur, kamu
diam-diam lalu mengeja setiap kata yang aku tulis, tak jauh seperti plagiat yang nantinya mengutip semua, kamu
diam-diam melihatku seksamamu mengamati, seperti penggemar yang menyukai idolanya, lalu meniru, kamu
iya, kamu
yang kata angin membenciku, tapi angin-anginan memperhatikan bahkan mengekor segalaku
iya, kamu
bisa buka mata sedikit ?
iya, kamu
masih punya hati kah ?
kamu, teruntuk kamu yang bahagia melihat kesedihanku
aku pagi
kamu senja
kita ada
saling melengkapi
mengawali dan menutup hari
sama-sama saling melukis senyum
kamu senja
kita ada
saling melengkapi
mengawali dan menutup hari
sama-sama saling melukis senyum
Kepada Tuhan, Sang Maha Pembalik Rasa
Aku tuliskan sebuah surat yang mungkin bisa Kau baca. Aku tahu, Engkau mengetahui aku lebih dari diriku sendiri. Aku tahu, Engkau mengganti setiap rasa yang hilang dengan rasa baru yang lebih dahsyat. Tak terkecuali pada cinta.
Boleh aku berkeluh sebentar ? Hanya sebentar. Iya, sebentar saja.
Tuhan memberi jarak (lagi) pada kisahku, bahkan kini lebih jauh dari sebelumnya. Meski sekarang, Engkau memberi lebih rasa percayaku pada kisah yang Kau tuliskan ini. Juga pada dia, yang Kau tugaskan menjaga hatiku. Memberi hati yang dewasa untuk bisa menjaga cinta.
Entah kenapa, aku dipercayakan lagi untuk menjadi tokoh dalam kisah seperti ini; selalu terhalang jarak. Mungkin, karena aku belum lulus dari ujian sebelumnya ? Jadi, harus ku ulang. Sampai aku berhasil, kelak. Kelak, sampai waktu yang Engkau tentukan; entah kapan.
Tapi, sempat ...
Pikiranku membayang. Hatiku pun berangan.
Kapan ?
Kapan aku bisa memandangnya sepuasku ?
Kapan aku bisa memeluknya semauku ?
Kapan aku bisa bercanda dengannya sesenangku ?
Kapan aku bisa menggandeng tangannya ?
Kapan aku bisa lihat senyumnya ?
Kapan ?
Kapan Kau beri waktu untuk bisa aku lakukan itu kapanpun aku mau ?
Aku tuliskan sebuah surat yang mungkin bisa Kau baca. Aku tahu, Engkau mengetahui aku lebih dari diriku sendiri. Aku tahu, Engkau mengganti setiap rasa yang hilang dengan rasa baru yang lebih dahsyat. Tak terkecuali pada cinta.
Boleh aku berkeluh sebentar ? Hanya sebentar. Iya, sebentar saja.
Tuhan memberi jarak (lagi) pada kisahku, bahkan kini lebih jauh dari sebelumnya. Meski sekarang, Engkau memberi lebih rasa percayaku pada kisah yang Kau tuliskan ini. Juga pada dia, yang Kau tugaskan menjaga hatiku. Memberi hati yang dewasa untuk bisa menjaga cinta.
Entah kenapa, aku dipercayakan lagi untuk menjadi tokoh dalam kisah seperti ini; selalu terhalang jarak. Mungkin, karena aku belum lulus dari ujian sebelumnya ? Jadi, harus ku ulang. Sampai aku berhasil, kelak. Kelak, sampai waktu yang Engkau tentukan; entah kapan.
Tapi, sempat ...
Pikiranku membayang. Hatiku pun berangan.
Kapan ?
Kapan aku bisa memandangnya sepuasku ?
Kapan aku bisa memeluknya semauku ?
Kapan aku bisa bercanda dengannya sesenangku ?
Kapan aku bisa menggandeng tangannya ?
Kapan aku bisa lihat senyumnya ?
Kapan ?
Kapan Kau beri waktu untuk bisa aku lakukan itu kapanpun aku mau ?
dari aku, anak-Mu yang selalu nakal :)
Hai pikiran yang sedikit menjernih
Hai hati yang sedikit meneduh
Hai jiwa yag sedikit mulai tenang
Apa yang kalian lakukan sedini ini ?
Hari masih gelap
Bulan bintang masih bertengger di tempat
Menguasai waktu semua orang
Yang terlelap telah asyik dengan mimpinya
Yang terjaga masih asyik dengan sukanya
Hai hati yang sedikit meneduh
Hai jiwa yag sedikit mulai tenang
Apa yang kalian lakukan sedini ini ?
Hari masih gelap
Bulan bintang masih bertengger di tempat
Menguasai waktu semua orang
Yang terlelap telah asyik dengan mimpinya
Yang terjaga masih asyik dengan sukanya
