Jika kamu nyata, mendekatlah
Aku tak sanggup jika harus menerka-nerka hingga lelah
Jika kamu nyata, mari bicara
Aku letih jika ternyata kita saling diam begitu saja
Aku tak sanggup jika harus menerka-nerka hingga lelah
Jika kamu nyata, mari bicara
Aku letih jika ternyata kita saling diam begitu saja
Jika kau dibesarkan dengan celaan, kau belajar memaki.
Jika kau dibesarkan dengan permusuhan, kau belajar berkelahi.
Jika kau dibesarkan dengan cemoohan, kau belajar rendah diri.
Jika kau dibesarkan dengan penghinaan, kau belajar menyesali diri.
Jika kau dibesarkan dengan toleransi, kau belajar menahan diri.
Jika kau dibesarkan dengan pujian, kau belajar menghargai.
Jika kau dibesarkan dengan dorongan, kau belajar percaya diri.
Jika kau dibesarkan dengan perlakuan baik, kau belajar keadilan.
Jika kau dibesarkan dengan rasa aman, kau belajar kepercayaan.
Jika kau dibesarkan dengan rasa dukungan, kau belajar menyenangi dirimu.
Jika kau dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, kau belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika kau dibesarkan dengan permusuhan, kau belajar berkelahi.
Jika kau dibesarkan dengan cemoohan, kau belajar rendah diri.
Jika kau dibesarkan dengan penghinaan, kau belajar menyesali diri.
Jika kau dibesarkan dengan toleransi, kau belajar menahan diri.
Jika kau dibesarkan dengan pujian, kau belajar menghargai.
Jika kau dibesarkan dengan dorongan, kau belajar percaya diri.
Jika kau dibesarkan dengan perlakuan baik, kau belajar keadilan.
Jika kau dibesarkan dengan rasa aman, kau belajar kepercayaan.
Jika kau dibesarkan dengan rasa dukungan, kau belajar menyenangi dirimu.
Jika kau dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, kau belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Pada hamparan luas padi yang menguning di samping rumah, aku menjatuhkan pandang.
Soreku selalu begitu; sendiri dan menanti tenggelamnya mentari.
Detik-detik menjelang senja itu selalu istimewa untukku.
Tidak ada yang betul menemaniku, selain secangkir kopi serta kicauan burung yang mesra berterbangan di atas rumpun padi itu.
Serta sekelibat ingatan-ingatan tentang kamu.
Aku selalu patah pada moment itu.
Pada setiap kejadian yang lagi-lagi terputar dalam ingatan.
Rasanya seperti kembali menyayat sendiri luka yang sama.
Luka yang masih menganga, aku sayat sendiri. Lagi, dan lagi.
Perih. Bukan main rasanya.
Ku minum perlahan, secangkir kopi itu.
Manisnya seolah mampu menghilangkan beberapa bagian luka.
Aku ingat, kita sempat berdebat perihal selera kita yang berbeda.
Aku setia pada cangkir abu-abu yang terisi penuh oleh kopi.
Dan kau, terlalu menyayangi gelasmu yang berisi teh hangat.
Hahaha!
Sudah entah senja ke berapa aku menikmati kopiku sendiri.
Tanpa ada aku yang cemburu pada bibir gelasmu yang kau ciumi berkali-kali.
Pun sebaliknya. Tanpa ada kamu yang selalu protes ketika berkali-kali aku jatuh cinta pada aroma kopiku.
Kini, pada setiap datangnya senja. Yang tersisa hanyalah aku, secangkir kopiku, dan sepotong ingatan tentang kamu.
Soreku selalu begitu; sendiri dan menanti tenggelamnya mentari.
Detik-detik menjelang senja itu selalu istimewa untukku.
Tidak ada yang betul menemaniku, selain secangkir kopi serta kicauan burung yang mesra berterbangan di atas rumpun padi itu.
Serta sekelibat ingatan-ingatan tentang kamu.
Aku selalu patah pada moment itu.
Pada setiap kejadian yang lagi-lagi terputar dalam ingatan.
Rasanya seperti kembali menyayat sendiri luka yang sama.
Luka yang masih menganga, aku sayat sendiri. Lagi, dan lagi.
Perih. Bukan main rasanya.
Ku minum perlahan, secangkir kopi itu.
Manisnya seolah mampu menghilangkan beberapa bagian luka.
Aku ingat, kita sempat berdebat perihal selera kita yang berbeda.
Aku setia pada cangkir abu-abu yang terisi penuh oleh kopi.
Dan kau, terlalu menyayangi gelasmu yang berisi teh hangat.
Hahaha!
Sudah entah senja ke berapa aku menikmati kopiku sendiri.
Tanpa ada aku yang cemburu pada bibir gelasmu yang kau ciumi berkali-kali.
Pun sebaliknya. Tanpa ada kamu yang selalu protes ketika berkali-kali aku jatuh cinta pada aroma kopiku.
Kini, pada setiap datangnya senja. Yang tersisa hanyalah aku, secangkir kopiku, dan sepotong ingatan tentang kamu.
Catatan ini sudah lama tersimpan di draft blog ini. Awalnya aku ingin menuliskan tentang pertemuan ketiga kita di Jogjakarta, tapi sepertinya terlambat jika aku baru mengunggahnya sekarang, maka dari itu aku ubah beberapa bagiannya.
