ini tentang pagi kita.
selain senja, pagi juga selalu punya cerita. tentang siapa yang menyapa siapa lebih dulu. pun tentang doa apa yang akan diwujudkan hari ini. dan tentu tentang apa yang harus kita jalani 24 jam ke depan. tak luput tentang siapa yang mengecup kening lebih dulu.
04.30
kamu, sembari mengecup keningku, "hei, kamu. selamat pagi".
aku menggerutu, "ah, sial. lagi-lagi kamu yang bangun lebih dulu".
kamu, "kan sudah biasa. jadi hari ini kita mau kemana?"
aku, "ya untuk hari ini. besok, aku yang lebih dulu."
kamu, "kemarin juga kamu berkata begitu. tapi, tetap aku yang bangun lebih awal."
itu bukan pertengkaran, lebih tepat bentuk sapaan pagi. yang setelahnya, seperti biasa, kita bukannya bergegas bangun menyapa mentari dan pergi terburu-buru karena ditunggu tumpukan perkerjaan di kantor. kita justru asyik dan tenggelam lagi dalam pelukan.
"waktu saja tak berniat memburu, kenapa kita harus merasa diburu? dia juga takkan cemburu karena aku terus-terusan memelukmu", katamu.
ini tentang pagi kita. tentang romantisme yang selalu berulang, tapi tak pernah membuat bosan. tentang pagi sebelum kita berkutat pada sibuk masing-masing.
selain senja, pagi juga selalu punya cerita. tentang siapa yang menyapa siapa lebih dulu. pun tentang doa apa yang akan diwujudkan hari ini. dan tentu tentang apa yang harus kita jalani 24 jam ke depan. tak luput tentang siapa yang mengecup kening lebih dulu.
04.30
kamu, sembari mengecup keningku, "hei, kamu. selamat pagi".
aku menggerutu, "ah, sial. lagi-lagi kamu yang bangun lebih dulu".
kamu, "kan sudah biasa. jadi hari ini kita mau kemana?"
aku, "ya untuk hari ini. besok, aku yang lebih dulu."
kamu, "kemarin juga kamu berkata begitu. tapi, tetap aku yang bangun lebih awal."
itu bukan pertengkaran, lebih tepat bentuk sapaan pagi. yang setelahnya, seperti biasa, kita bukannya bergegas bangun menyapa mentari dan pergi terburu-buru karena ditunggu tumpukan perkerjaan di kantor. kita justru asyik dan tenggelam lagi dalam pelukan.
"waktu saja tak berniat memburu, kenapa kita harus merasa diburu? dia juga takkan cemburu karena aku terus-terusan memelukmu", katamu.
ini tentang pagi kita. tentang romantisme yang selalu berulang, tapi tak pernah membuat bosan. tentang pagi sebelum kita berkutat pada sibuk masing-masing.
teruntuk hati yang sedang aku singgahi, maaf untuk segala kebodohanku
belakangan ini, dan terimakasih untuk segala bahagia yang kau beri.
jika kau percaya kebahagiaan ada di tanganmu, genggamlah. jika kebahagiaan itu belum kau dapat, pergi! carilah! aku tidak akan menahanmu.
entah sejak kapan aku memang merasa kau tidak bahagia, dan perasaan itu membuatku tak mungkin berego untuk bahagia sendiri. atau itu hanya perasaanku?
tunggu. kamu mau kita bahagia, atau kita pernah bahagia? pilih sekarang.
aku ingin kamu bahagia. dan aku pun juga ingin bahagia.
jika kau percaya kebahagiaan ada di tanganmu, genggamlah. jika kebahagiaan itu belum kau dapat, pergi! carilah! aku tidak akan menahanmu.
entah sejak kapan aku memang merasa kau tidak bahagia, dan perasaan itu membuatku tak mungkin berego untuk bahagia sendiri. atau itu hanya perasaanku?
tunggu. kamu mau kita bahagia, atau kita pernah bahagia? pilih sekarang.
aku ingin kamu bahagia. dan aku pun juga ingin bahagia.
Ketika pelangi muncul sehabis hujan
Aku mengingat saat kita dalam pelukan
Senyummu yang malu ketika pipimu menerima sebuah kecupan
Aku tak sempat lagi menggodamu
Kau pergi bersama dia yang kau sebut kekasihmu
Aku malu, malu pada diriku yang tak sempat berkata aku cinta kamu
Sekujur tubuhku kaku, gigiku ngilu, ingatanku mulai ragu memutar tentang kamu
Tapu hati tak mau berhenti disitu
Mungkin aku mulai mencinta kehilanganku atas kamu
Ah, tidak
Kamu hanya serpihan sebuah sajak
Menggores pedih hati sebagai jejak
Menggoyah bumi tempatku berpijak
Kamu, perempuan yang selalu aku torehkan parasnya dalam lukisan
Tahukah kamu, bahwa rindu itu bagai dicambuk rotan ?
Aku mengingat saat kita dalam pelukan
Senyummu yang malu ketika pipimu menerima sebuah kecupan
Aku tak sempat lagi menggodamu
Kau pergi bersama dia yang kau sebut kekasihmu
Aku malu, malu pada diriku yang tak sempat berkata aku cinta kamu
Sekujur tubuhku kaku, gigiku ngilu, ingatanku mulai ragu memutar tentang kamu
Tapu hati tak mau berhenti disitu
Mungkin aku mulai mencinta kehilanganku atas kamu
Ah, tidak
Kamu hanya serpihan sebuah sajak
Menggores pedih hati sebagai jejak
Menggoyah bumi tempatku berpijak
Kamu, perempuan yang selalu aku torehkan parasnya dalam lukisan
Tahukah kamu, bahwa rindu itu bagai dicambuk rotan ?
waktu tak pernah memberi kata terlambat untuk mencintai
kamu, aku, dia, mereka, siapa saja bisa mengurai
setiap kata tanpa luput dari air mata yang berderai
mungkin ini cemburu
untuk hati yang terlebih dulu didiami kamu
sebelum kalian berakhir dengan jemu
aku tak ingin menduga mengapa akhirnya kalian tumbang dalam haru
aku tak ingin benar menduga mengapa kalian akhirnya sempat menjadi pilu
aku bersikeras tak ingin menduga mengapa akhirnya aku yang cemburu
kamu, mungkin kamu bidadari yang ditugaskan mendiami beberapa hati
sebelum tinggal menua dengan satu diri yang sejati
kamu, mungkin peri bulan yang selalu bisa menghibur malam yang sunyi
menjadi terang ketika dia merasa menjadi paling sepi
kamu, perempuan yang mendiami hatinya terlebih dulu
bisa tidak membuat aku cemburu ?
aku serasa diburu jika mencoba menghadirkan kamu dan dia dalam masa lalu
atau, itu hanya ketakutanku ?
kamu, perempuan yang dulu mendiami hatinya
aku memohon ijin untuk memiliki penuh hatinya
aku memohon ijin untuk menggantikanmu menghapus sedihnya
aku memohon ijin untuk menempati setiap sudut pada ingatannya
aku memohon ijin untuk mencintainya
kamu, aku, dia, mereka, siapa saja bisa mengurai
setiap kata tanpa luput dari air mata yang berderai
mungkin ini cemburu
untuk hati yang terlebih dulu didiami kamu
sebelum kalian berakhir dengan jemu
aku tak ingin menduga mengapa akhirnya kalian tumbang dalam haru
aku tak ingin benar menduga mengapa kalian akhirnya sempat menjadi pilu
aku bersikeras tak ingin menduga mengapa akhirnya aku yang cemburu
kamu, mungkin kamu bidadari yang ditugaskan mendiami beberapa hati
sebelum tinggal menua dengan satu diri yang sejati
kamu, mungkin peri bulan yang selalu bisa menghibur malam yang sunyi
menjadi terang ketika dia merasa menjadi paling sepi
kamu, perempuan yang mendiami hatinya terlebih dulu
bisa tidak membuat aku cemburu ?
aku serasa diburu jika mencoba menghadirkan kamu dan dia dalam masa lalu
atau, itu hanya ketakutanku ?
kamu, perempuan yang dulu mendiami hatinya
aku memohon ijin untuk memiliki penuh hatinya
aku memohon ijin untuk menggantikanmu menghapus sedihnya
aku memohon ijin untuk menempati setiap sudut pada ingatannya
aku memohon ijin untuk mencintainya
